Catatan Kecil Hari ini

#17

Jibril mendatangku. Mulanya aku tak menyadari kedatangannya. Mungkin karena kebodohanku. Mungkin juga lantanan aku, belakangan, asyik berskeptis ria. Tapi, aku cenderung meyakini alasan soal skeptis itu.

Aku tidak yakin itu jibril. Sebab, bagaimana mungkin jibril akan mengenali aku. Dengan rasa yang benar-benar dekat. Seakan aku dan dia sudah karib betul. Dia datang sekoyong-konyong, lantas menyapa dalam bahasa jawa banyumasan. Ah, pastinya bukan hanya aku yang bakal meragukan jibril itu.

Tapi keraguan itu juga semakin diragukan. Terutama saat aku tahu sosok jibril itu tidak bisa tersentuh. Maya. Hanya kata-katanya saja yang terbaca indera manusiawiku ini. Lagi pula, dalam-kata-kata yang singkat itu, ada semacam wahyu.

Memang tidak mirip dengan rangkaian kata selayaknya kitab suci, tapi aku pikir kata-kata jibril itu sejenis wahyu. Memang tidak dalam bentuk pernyataan indah layaknya sajak bikinan Tuhan, melainkan pertanyaan yang singkat dan sama sekali tak indah. Tapi aku pikir itu wahyu.

Di tengah kegalauan akan keyakinan eksistensi jibril itu, aku mendengarnya berujar padaku. Jibril bertanya soal kesibukanku. Soal hal-hal yang aku lihat, belakangan ini.

Namun, belum sempat aku menjawab. JIbril benar-benar lenyap. Bukan hanya dalam arti maya. Tapi juga dalam artian yang sesungguhnya. Dia tidak ada sekelilingku lagi. Buktinya, aku tidak mendengar suaranya dengan gamblang lagi. Sesaat itu, aku sedikit menghardik. “Ah, sial!”

Kesialan semakin merajai, saat aku pulang keperaduan. Jalan panjang Purbalingga-Bobotsari tak teraliri listrik. Hanya lampu berwarna kekuningan yang menyala di sepanjang jalan. Sewaktu aku di atas motor, aku berpikir, jangan-jangan, semua ini azab untuk diriku. Atas sikap skepitisku yang berlebihan atas eksistensi Jibril.

Temaran lilin menyambut saat aku sampai rumah. Kini, giliran sosok selain jibril yang berbicang denganku. Dia bukan malaikat. Kalau yang satu ini, aku tanpa meragu. Dia memperkenalkan dirinya sebagai seorang seniman. Cuma, aku tidak tahu dia pandai dalam hal apa. Puisi, cerpen, novel atau apa. Entahlah.

Ah, aku juga lupa namanya. Tapi biarlah. Bukankah selalu ada kata-kata ajaib kalau kita lupa dengan nama. Apalah arti sebuah nama. Kira-kira begitu ungkapannya.

Yang terang, lelaki itu berbicara soal imajinasi dan fakta. Katanya, faktapun bisa jadi fiksi.Dan ujung-ujungnya, hanya fakta-fakta yang pedih, ngilu, atau menyenangkan itu akan dipermainkan dengan indah oleh imajinasi. Tiap cerita nyata, memiliki akhir cerita berbeda satu sama lain. Tergantung imaji yang tiap-tiap orang mainkan.

Cerita tentang merapi misalnya. Jika kita doyan dengan cerita-cerita yang menguras air mata, maka kita akan menunggu-nunggu akhir cerita gunung di wilayah Jogja itu. Semenderita apa warga di sana? Penyakit macam apa yang akan menyerang warga papa itu.

Jika kita doyan dengan cerita-cerita tentang alam yang membikin deg-degan, maka kita akan menanti, apakah ada gunung lain yang turut bersolidaritas dengan merapi. Dan akhirnya turut meluapkan isi bumi itu. Kita pun lantas dag-dig-dug.

Atau kita hobi mendengar cerita aksi heroik khas pahlawan kesiangan. Maka bersamaan dengan cerita merapi, mentawai dan wasior, cerita tentang politik konspirasi pun mencuat. Teknologi pemusnah massal bikinan amerika pun bisa saja muncul.

Aku mengakhiri perbincangan dengan seniman ternama itu. Sebab, aku tahu, seniman itu punya pikiran yang liar. Dan aku sedang takut. “Keterjebakan atau malah kenikmatan tersendiri,” begitu kata ku pada seorang teman. Pun begitu dengan pembicaraan dengan seniman yang satu itu.

Dan senyatanya, aku malah jadi kembali memainkan imajinasiku. Imaji tentang Jibril dan seminan laki-laki itu. Memikirkan bagaimana akhir ceritanya, jika aku begini, jika aku begitu. Dan, sekali lagi, aku menghardik. “Ah sial!”

[30/10/2010]

2 thoughts on “#17”

Tinggalkan Balasan ke Bangkit! Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *