rekomendasi kuliner purbalingga
Catatan Kecil

5 Kuliner Tradisional dari Purbalingga Ini Cocok Banget jadi Kanca Medhang, Yang Mana Favorit Kamu?

Ketika secangkir kopi atau teh tersaji di meja, pada pagi hari, maka pantang menyuguhkan mereka, sendirian. Kehadiran mereka sebaiknya ditemani dengan camilan berlevel agak berat, kecuali ingin membikin semangat aktivitas berkobar lesu.

Kalau di Purbalingga dan sekitarnya, camilan agak “berat” yang menemani suguhan kopi atau teh biasa disebut kanca medhang. Artinya, teman minum.

Dalam khasanah njugur alias nongkrong bareng di Tanah Panginyongan, kanca medhang ini beda makna lagi dengan kletikan. Kalau kletikan itu istilah yang merujuk pada camilan level ringan. Semisal, kripik hingga kacang. Kletikan itu ya harus kemletik alias gurih-gurih gitu lah.

Kekayaan seni berbahasa kita memang luar biasa yah. Untuk urusan camilan saja, banyak sekali kosakata yang muncul. Itu baru bahasa Banyumasan kan. Masih banyak daerah dengan kekayaan bahasanya masing-masing. Mantul.

Ngomong-ngomong soal bahasa dan kuliner, AkuBangkit jadi pengin share beberapa kuliner berstatus kanca medhang di Purbalingga yang punya nama unik nih. Hihihi.

Purbalingga punya banyak jenis kuliner tradisional yang bisa menjadi kanca medhang. Ada mendoan, gorengan dage, gorengan more, sampai dengan gedang goreng. Mereka jelas sudah ternama kan.

Gampang sekali menemukan kuliner-kuliner seperti itu di Purbalingga, bahkan Banyumas Raya. Mulai dari warungan kecil hingga cafe hits, pasti ada saja yang menjual salah satu di antara menu kulineran tersebut.

Tapi, yang mau AkuBangkit share ini, beberapa jenis makanan kanca medhang yang nggak biasa. Selain rasanya yang nikmat, mereka juga memiliki nama unik. Heuheu.

kuliner tradisional khas purbalingga
Meskipun tidak terlalu populer di masa kini, kampel menjadi salah satu kuliner tradisional dari Bumi Panginyongan yang nikmat dan beneran unik. Sumber foto: AkuBangkit

Satu. Kampel.

Dalam bahasa banyumasan, kampel berarti peluk. Seperti namanya, menu kanca medhang yang satu ini juga menampilkan adegan berpelukan antara ketupat dan mendoan. Hayo, sudah punya gambaran belum? Hehehe.

Jadi begini. Kampel itu terbuat dari ketupat yang dipotong memanjang menjadi dua bagian. Lalu, tempelkan satu bagian potongan ketupat dengan mendoan. Jangan lupa dikasih sambel di antara ketupat dan mendoan. Habis itu, lapisi mereka tepung. Lalu goreng.

Itu kalau kampel versi Purbalingga. Kalau di Kabupaten Banyumas, kampel terbuat dari pasangan ketupat dan dage. Cuma dage itu saja sih yang jadi pembedanya.

Karena terbuat dari ketupat, kampel jelas bikin kenyang. Makan dua porsi aja, udah cocok deh disebut sarapan.

Rondo royal alias tape goreng yang masih hangat sangatlah nikmat untuk menjauhkan perut dari kelaparan. Sumber foto: ngeti.com

Dua. Rondo Royal

Kanca medhang bernama rondo royal ini sebenarnya nggak punya hubungan sama sekali dengan sikap boros seorang janda. Karena, rondo royal ini sejatinya merupakan nama kanca medhang yang terbuat dari tape.

Yes, rondo royal ini sebutan lain dari tape goreng. AkuBangkit nggak ngerti kenapa namanya bisa begitu juga sih. Hehehe.

Menu kulineran yang satu ini juga termasuk jenis kulineran yang simpel banget. Cara membuatnya tape yang dibalur dengan tepung, lalu digoreng. Sesederhana itu sih. Rasanya jelas nikmat, dong.

Rasanya yang manis jelas bikin lidah nggak sabar untuk menikmatinya. Kuliner tradisional ini selalu eksis hingga sekarang. Sumber foto: masakandapurku.com

Tiga. Cimplung

Kalau menu kulineran yang satu ini termasuk salah satu menu tradisional yang terkenal. Cimplung ini termasuk satu level lah sama pisang goreng, kalau urusan terkenal di dunia kuliner nusantara.

Cimplung itu ketela alias singkong yang direbus, lalu biarkan singkong tersebut mandi gula. Gula jawa loh yah, jadi jangan heran kalau rasa cimpung ini manis banget. Legit.

Selain terbuat dari singkong, cimplung di wilayah Purbalingga dan sekitarnya juga berbahan dasar dari kelapa hingga sukun. Semuanya nikmat sekali buat camilan di kala nongkrong dan ngobrol akrab gitu.

Kalau sedang hangat dan mengolah ubinya dengan baik, limpung adalah kanca medhang yang berstatus “jangan sampai lolos”. Sumber foto: cookpad.com

Empat. Limpung

Hm, limpung ini juga biasa nongol di warung-warung yang jualan gorengan. Limpung itu terbuat dari munthul alias ubi jalar. Nama gaul limpung di kota besar adalah gorengan ubi. Hehehe.

Wankawan sudah tahu lah cara membuat gorengan ubi alias limpung ini. AkuBangkit nggak usah menjelaskan detailnya. Yang jelas nikmatkan makan limpung pas masih hangat.

Limpung juga salah satu menu kanca medhang favorit bagi masyarakat perdesaan di Purbalingga. Rasa manis ubi jalar nan empuk plus tepung yang gurih, jelas bikin limpung menjadi teman ngopi yang kece dong.

Menu bernama gesret ini punya nama beken di kota, yakni sawut. Gesret ini banyak mengalami modifikasi, terutama di toppingnya. Sumber foto: cookpad.com

Lima. Gesret.

Aku nggak tahu arti nama gesret. Tetapi yang jelas, gesret adalah makanan khas dari wilayah eks-karesidenan banyumas. Bahan dasarnya adalah singkong.

Namun, gesret ini jelas beda banget dengan cimplung. Karena gesret ini terbuat dari singkong yang diparut memanjang. Setelah diparut, gesret dicampur dengan gula jawa dan bumbu lain kemudian dikukus.

Gesret biasanya disajikan dengan taburan parutan kelapa. Seringnya sih, gesret yang manis asin itu tampil bareng gethuk singkong. Enak banget sarapan bareng gesret dan teh manis hangat di pagi hari. Makyuuus.

Baca Juga Dong: Wisata Kuliner di Cilacap yang No Bokis, Puding Klamud Bang Bulex

Itulah lima menu kuliner tradisional yang biasanya menjadi kanca medhang di wilayah Purbalingga. Masih banyak lagi kanca medhang yang lainnya. Seperti jander, grontol, cenil, gepok dan banyak lagi menu kuliner tradisional lainnya yang tersedia di pasar.

 Sayangnya, sekarang ini, menu-menu kulineran khas Purbalingga tersebut sudah mulai kehilangan pamornya. Yang beli kebanyakan adalah orang tua, sedangkan yang generasi yang lebih muda boro-boro kenal sama jajanan pasar itu.

AkuBangkit cukup beruntung masih bisa menikmati menu kuliner tradisional khas Purbalingga tersebut. Karena ibu di rumah masih sering pergi ke pasar dan membeli jajanan itu, sekedar untuk mengganjal perut sebelum menu sarapan siap tersaji.

Kalau wankawan, masih suka makan menu kuliner tradisional apa nih di rumah?

6 thoughts on “5 Kuliner Tradisional dari Purbalingga Ini Cocok Banget jadi Kanca Medhang, Yang Mana Favorit Kamu?”

  1. gagal fokus sama piringnya paling atas, dulu kami punya beberapa piring gitu di rumah ortu saya, sekarang piring gitu jadi kayak barang antik deh, lucu 🙂

    1. Iya. Asik banget punya barang-barang antik begitu. Selain nostalgia, memang membawa nuansa yang menyenangkan waktu makan. Hehehe. Makasih udah main.

    1. Betul, kang. Salah satu kanca medhang yang nggak pernah bikin bosen tuh, tape goreng. Apalagi kalau tepungnya digoreng sampai kriuk. Gurih di luar, lembut di dalam. Hehe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *