enjoy jakarta coffee
Ulasan

Secangkir Kopi, Berburu Kisah & Berbagi Inspirasi di Giyanti Coffee Roastery

Kembali lagi ke Jakarta. Dengan menggunakan mobil, isinya bertiga, sampai di Jakarta siang hari. Sekitar pukul 13.00 WIB. Lantas langsung menuju hotel.

Kali ini kembali ke Jakarta karena urusan pekerjaan. Kalau beberapa bulan kemarin, membantu teman-teman Direktorat Refinery Unit (RU) Pertamina presentasi di event APQA 2019, sekarang ini untuk pitching.

Nah, karena belum bisa check in, maka langsung tercetus ide untuk nongkrong sambil ngopi-ngopi. Tanpa banyak pilihan, muncullah ide untuk ngopi di Giyanti Coffee Roastery.

Giyanti Coffee Roastery ini dipilih berkat rekomendasi dari temannya teman yang ada di Jakarta. Selain karena hits, cafe yang satu ini juga punya suasana yang kece.

Eh, kita kenalan dulu ya sama Giyanti Coffee Roastery dulu yah. Biar semakin kenal. Siapa tahu kan, teman-teman pengin ngopi selow di Jakarta kan.

cafe kopi jakarta

Cafe yang mampu melahirkan kopi sekaligus inspirasi.

Giyanti Coffee Roastery ini ada di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Tepatnya di Jalan Surabaya. Lokasinya di depan pasar barang-barang unik nan antik, yang berderet di tepi jalan.

Kalau ngecek di about di situs Giyanti Coffee Roastery, nama Giyanti ini terinspirasi dari Perjanjian Giyanti. Tahu kan tentang Perjanjian Giyanti? Heuheu.

Meski cafe yang cuma buka pukul sampai pukul 17.00 WIB ini berada di tepi jalan, cafe ini seperti “bersembunyi” di balik gedung. Pintunya di samping gedung, yang pas aku main ke sana, tertutup pintunya sih.

Nah, pas sudah masuk, ternyata tempatnya luas men. Giyanti Coffee Roastery punya dua lantai yang asyik banget interiornya. Ada juga space kawasan bebas merokok.

Gaya interiornya yang ada nuansa industrial hingga rustik, membikin mata nggak lelah untuk melihat pemandangan. Setiap sudut dan lantai gedung menawarkan pemandangan yang berbeda-beda.

Hayuk Baca: Mengabadikan Sepotong Senja di Spot Selfie Terbaru Caping Park Baturraden

Suasananya juga humble banget. Mulai dari anak muda sampai orang tua main ke Giyanti Coffee Roastery. Mereka asyik ngobrol dunianya, tanpa terlihat mengganggu dan terganggu obrolan dunia di meja sebelahnya.

Nggak heran lah, dari dua jam lebih nongkrong di Giyanti Coffee Roastery, kursi-kursi yang tersedia nggak pernah kosong. Ngopi di Giyanti memang asyik sih yah.

Eh iya, ada peraturan yang unik dari Giyanti Coffee Roastery ini loh. Salah satunya aturan main nggak boleh ada sesi foto profesional dan nggak tersedianya kopi-kopi Giyanti Coffee Roastery in di Go-Food.

Kalau dugaanku, ini karena Giyanti Coffee Roastery lebih pengin menjual kopi lebih dari sekadar kopi. Apa lagi yang dijual? Ya jelas suasana itulah.

nongkrong kopi indonesia

Bahan bakar ngobrol itu bernama kopi.

Selain untuk menyegarkan badan dan mata, ngopi bareng tim di Giyanti Coffee Roastery memang sengaja dimanfaatkan untuk ngobrol. Ya ngobrol apa saja kan. Ngalor dan ngidul.

Kopi kan memang punya sisi ajaib yah. Selalu bisa melahirkan inspirasi bahkan minim-minim ya bahan obrolan yang nggak pernah habis dan selalu menarik.

Ngopi bareng tim Citrantara ini di Giyanti Coffee Roastery juga seru banget. Terutama saat ngobrol soal negara. Eits, ini bukan ngobrol soal politik copras-capres loh yah.

Tapi soal negara dalam dimensi bisnis. Tentang politik pemilu yang pada akhirnya mempengaruhi orang-orang untuk wait and see memutar uang yang dimilikinya.

Tentang agenda-agenda setting ‘invicible hand’ yang bermain peran di balik laju roda negara bernama Indonesia. Sampai ngobrolin juga soal orang-orang yang ribut di tv itu sebenarnya temen ngopi harian.

Pokoknya asyik banget nongkrong, ngopi dan ngobrol di Giyanti Coffee Roastery ini. Banyak pengetahuan baru tentang bangsa yang sebenarnya besar dan sedang tumbuh ini.

Bertambah juga pengalaman tentang gaya hidup orang Jakarta. Banyak lah cerita yang didapatkan. Sayangnya, nggak semua bisa dishare di blog ini. Hehehe.

nongkrong hits jakarta

Oh iya, ini kopi yang aku pesan.

Saking asyiknya cerita nuansa asyiknya ngopi di Giyanti Coffee Roastery, malah sampai lupa mau cerita tentang kopinya sendiri. Hehehe. Maafken.

Di Giyanti Coffee Roastery lebih banyak pilihan kopi. Terutama yang kopi plus susu, creamer atau es krim. Tapi, aku lebih memilih pesan ‘kopi hitam’ bersama esspreso.

Kopinya datang dalam cangkir toska. Cangkirnya kecil. Namanya juga esspreso, jadi ini tentang kualitas kopi, dibandingkan banyak-banyakan airnya.

Dengan harga yang terbilang ‘wow’ untuk orang ndesa macam aku, yakni hampir Rp 50 ribu. Esspreso dari Giyanti Coffee Roastery sangat-sangat worth it. Sesruputan aja langsung bikin melek.

Apalagi sambil ngobrol tentang hal-hal yang menarik dan baru, sudah tentu esspreso ini semakin mantap. Alhasil, walaupun secangkir kecil, kopinya bertahan sampai dua jam. Diirit-irit gaes. Hehe.

Selain ngopi, aku juga pesan chicken croissant. Kalau soal rasa croissant, menurutku sih masih hampir sama dengan roti-roti croissant di tempat lain. Lebih bisa dinikmati kopinya sih.

kopi nusantara

Kopi yang lebih dari sekedar ngopi.

Di beberapa postingan di media sosial, aku memang sering berpendapat begitu. Ya bagaimanapun, ngopi memang nggak bisa dilepaskan dari budaya, habit sampai kemampuan ekonomi kan.

Kayaknya, Giyanti Coffee Roastery jadi salah satu cafe yang juga bicara soal kopi dan budaya. Terlihat dari habit dan karakter para pecinta kopi yang main ke cafe ini.

Kalau punya kesempatan main ke daerah Menteng, Giyanti Coffee Roastery bisa banget dicoba. Tetapi, siap-siap dompet yang agak tebel yah. Aja kayak aku. Hehehe.

Eh, sudah ngopi hari ini?

6 thoughts on “Secangkir Kopi, Berburu Kisah & Berbagi Inspirasi di Giyanti Coffee Roastery”

    1. Kopi tubruk itu cocoknya disruput di lingkungan ndesa kang. Kalau di cafe apalagi di kota, rasanya nggak sesyahdu itu kok.

  1. Dari namanya aku memang langsung teringat tentang Perjanjian Giyanti di jaman bahela. Wahahha.

    Kopi memang selalu memberikan inspirasi, khususnya mereka pecinta kopi. Sambil santai, ngobrol dan menyesap kopi, kadang pikiran atau ide positif pun muncul.

    Ngopi neng Jakarta pancen kudu kandel dompete, apa maning anu biasa ngopi neng daerah. Wkwkwkkwkw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *