Catatan Lepas

Buku Merah Jambu dan Budaya Membaca

Buku telah lama didaulat menjadi jendela dunia. Sementara sekarang dunia sudah tak berbatas.


Ada buku berwarna merah jambu di rumah. Itu buku lawas, tebal, terjemahan dan juga jarang dibaca bahkan tidak ada yang membacanya. Dari beberapa tahun ini, ia ada di bawah kolong meja. Buku itu adalah buku tentang motivasi hidup.

Isi cerita di buku itu tergolong mudah dipahami, meski tata bahasanya khas terjemahan banget. Mungkin karena ada banyak contoh dalam setiap ceritanya. Setiap bab berisi cerita-cerita yang berdasarkan pengalaman si penulis.

Buku berwarna merah jambu itu berbicara soal pentingnya pikiran dalam kehidupan. Baik itu soal sukses, terpuruk, bangkit dan alur hidup lainnya. Pada setiap babnya, ada ceritanya masing-masing.

Kata buku itu, kesuksesan bahkan kebangkitan hidup berpondasi pada cara berpikir dan cara pandang kita atas konsep diri dan masalah yang dihadapi.

Begitulah buku. Ia tetap bisa memainkan peran sebagai jendela wawasan sekaligus guru dan pijakan, kendati ia jarang dibaca, dipahami dan berdebu. Begitu pula buku berwarna merah jambu itu.

Dulu, masa kuliah, ada teman yang nggak mau diajak ngobrol atau diskusi jika belum membaca buku tentang bahan obrolan itu. Karena itu, membaca buku jadi kebiasaan. Dan, sangat puas jika bisa berdiskusi dengan bersandar pada buku yang sudah dibaca. Rasanya nyambung sekali.

Kalau sekarang, kabarnya banyak orang berbicara, berdiskusi bahkan berdebat hanya bermodal membaca daftar isi atau judul tulisan. Bahkan, beberapa pegiat menulis kerap mengeluh tentang menurunnya budaya membaca, sementara budaya lisan terus melesat.

Ingat pepatah klise; jangan menilai buku dari sampulnya.

Jangan Lupa Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *