Catatan Lepas

Cerita di Antara Meja Coklat

Sore yang baik disapa dengan baik. Jangan lelah untuk berpikir positif.
Photo by Stoksnap.oi

Kabel hitam itu mengular. Satu ujung  berada di meja pojok barat, sedangkan satu ujung lainnya ada di meja tengah. Badan kabel yang ada di antara ujung kabel menggelantung dan melengkung-lengkung. Kabel sudah mirip polah ular di antara asrinya Amazon.


Tak ada yang membicarakannya. Sepertinya dunia ini sedang sibuk dengan urusan-urusannya sendiri. Urusan yang tampak sibuk itu mungkin memang tak ada hubungannya dengan kabel yang mengular dan menggantung itu.


Di antara sibuknya dunia, – ah atau dunia yang sibuk, isi gelas cangkir bermotif emas itu sudah terus menyusut. Kubangan hitam itu tinggal separuh bagian dalam gelas. Kubangan itu hanya menyiasakan bercak tak teratur di bibir cangkir.

Cangkir itu sebenarnya bisa saja berisikan teh. Tetapi, entah kenapa teh hanya diisi di gelas-gelas besar. Cangkir yang sudah menahun itu lebih akrab dengan ampas dan air kopi. Ia pernah protes dengan kondisi itu, tapi tak ada yang pernah mau memberi klarifikasi.

“Sudahlah, nikmati saja rutinitasmu itu. Bersyukurlah sedikit,” kata dompet merah yang tak pernah gemuk. Dompet itu berada dekat dengan cangkir berona emas gemerlap itu. Si cangkir hanya melirik.

Jika harus jujur, dompet itu sejatinya tak peduli dengan nasib di cangkir itu. Sebab, dompet persegi panjang itu juga punya masalahnya sendiri. Ia terlalu sibuk dengan urusannya setiap akhir bulan.

Namun, karena terlalu berisik keluhan cangkir, dompet turut ikut omong. Tetapi, ya omongan itu tak bernilai apapun. Untuk itulah, kata-kata tak berpengaruh apapun.

Sore semakin menjelang. Muka bosan semakin banyak. Muka itu milik manusia. Sambil mengusap sumuk, muka-muka itu semakin terjerembab pada kebosanan. Ah, mungkin bukan bosan, tapi tak sabar.
Jangan Lupa Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *