Catatan Kecil

Seduhan Kopi di Point Pbg Coffee Roastery dan Rantai Bisnis Kopi Lokal Purbalingga. Ah, Jadi Pengin Nyeduh Kopass!

Mendung sudah menggantung di langit biru dan pelupuk mata. Senja hari sudah semakin mendekat, tapi belum juga berangkat. Walau suasana begitu kelabu, janji seruput kopi lokal Purbalingga bersama Point Pbg Coffee Roastery harus tuntas.

Sekitar pukul 16.30, motor langsung melesat ketika gas ditarik. Seperti dugaan, grimis sudah menghadang di desa sebelah. Tapi, rintik-rintik yang jatuh buru-buru jelas bukan alasan untuk menghentikan laju kendaraan apalagi berbalik arah. Pulang.

AkuBangkit bawa mantel. Ada di jok motor. Namun, karena grimis yang datang itu masuk kategori “ora gawe kluncur”, maka terus saja tancap gas.

Desa Makam, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga sudah semakin dekat. Tinggal dua desa lagi, maka destinasi sudah di depan mata. Lega sekali rasanya. Terlebih, waktu maghrib sudah mengetuk sore.

Liburan di Purbalingga: Wahai Para Traveler! Mari Kita Menelusuri Kehidupan Keluarga Pak Tani di Destinasi Wisata Terbaru Purbalingga, Green Sabin!

kedai kopi rembang purbalingga

Mendung memang tak berarti hujan, tetapi sore itu, hujan deras mengguyur jua. Padahal tinggal 5 menit lagi, AkuBangkit sampai di Point Pbg Coffee Roastery.

Karena pertimbangan lokasi yang sudah dekat dan matahari yang sudah tak sabar pulang keperaduan, motor nggak berhenti. Terobos saja. Sudah dekat, nggak bakal basah kuyup, pikir AkuBangkit.

Yey! Akhirnya sampai juga di Point Pbg Coffee Roastery. Kedai kecil yang ada di Desa Makam, Kecamatan Rembang. Tepatnya di wilayah desa yang biasa disebut Stana Cilik.

blogger hits kuliner purbalingga

Secangkir Kopi Lokal Purbalingga yang Diseduh bersama Rintik Hujan.

Sesampainya di Point Pbg Coffee Roastery, AkuBangkit lantas disambut dengan suasana akrab penghuni kedai. Nggak ketinggalan suara bising mesin roasting kopi ikut menyapa.

Eh, tapi ingat, kalau mau masuk ke kafe kecil ini, jangan lupa lepas sandal atau alasa kaki lainnya. Karena aturan mainnya seperti itu. Kayak masuk ke rumah yah. Hehehe.

Sementara para pekerja di Point Pbg Coffee Roastery sibuk dengan aktivitasnya,  mulai dari roasting dan packing kopi sampai dengan membuatkan kopi sesuai penan pelanggan, AkuBangkit ngobrol dengan founder Point Pbg Coffee Roastery, Rifki Maulana.

AkuBangkit berkenalan dengan Rifki pada tahun 2018 kemarin. Waktu itu, doi ikutan buka stand di Kopi Merdeka 2018 yang digelar di Owabong Hotel Purbalingga.

Sejak berkenalan dua tahun silam, Point Pbg Coffee Roastery adalah salah satu dimana AkuBangkit nggak pernah meragukan kualitas olahan kopi dan seduhannya.

Dalam beberapa kali kesempatan bertemu di event, AkuBangkit selalu bilang “terserah kowe bae, sing paling enak”, ketika Rifki bertanya mau minum kopi dari Point Pbg Coffee Roastery.

Hal ini karena AkuBangkit tahu bagaimana Point Pbg Coffee Roastery benar-benar serius dan disiplin dalam mengolah pasca panen. Proses pengolahannya dirancang sedemikian rupa demi upgrade kualitas kopi lokal Purbalingga.

Makanya, kopi lokal Purbalingga, baik bean maupun bubuk yang telah dipacking oleh Point Pbg Coffee Roastery punya jaminan mutu. Sudah ter-upgrade.

Hmm, akhirnya seduhan kopi hitam datang juga menyapa selepas maghrib. Kopi item itu tersaji dalam cangkir putih. Hujan masih saja rintik-rintik. Sementara obrolan kami semakin seru.

Menyeduh Senja Kelabu yang Jauh dari Keramaian Kota.

AkuBangkit duduk di bangku panjang. Sedangkan kopi excelso tersaji di meja. Yang mana, meja itu berbentuk bulat nan minimalis, sangat identik dengan kafe.

Kalau kopi excelso itu dipanen dari tanah di wilayah Karangmoncol. Jika dibandingkan dengan kopi jenis robusta ataupun arabica, kopi excelso memang lebih jarang ada di Purbalingga.

AkuBangkit bersender pada tembok yang ditempati quote dari Jenderal Soedirman. “Kupilih Jalan Bergerilya.” Sebuah quote yang cocok untuk Point Pbg Coffee Roastery dan juga AkuBangkit sendiri. Heuheuheu.

Kedai kopi a la Point Pbg Coffee Roastery sangat minimalis. Bergaya rustik yang dipadukan dengan sentuhan nuansa floral. Hawa keakraban dan kesantuyan begitu menguasai momen nongkrong sore di Point Pbg Coffee Roastery.

Satu spot yang bikin naksir adalah spot duduk di dekat jendela. Pemandangan lalu lalang kendaraan dan warga di malam hari akan membuat pikiran mudah melupakan keruwetan rutinitas. Spot yang instagramable!

Kenyamanan Point Pbg Coffee Roastery nggak cuma berasal dari settingan tempat dan keakraban yang terbangun. Fasilitas juga turut memberi sokongan. Kafe ini punya LCD Proyektor, Wifi dan juga beberapa buku bacaan. Asik sekali.

rifki maulana point pbg coffee roastery

Tetesan Konsistensi dan Kejelian Membaca Potensi Kopi Lokal.

Walaupun mengaku masuk ke bisnis kopi karena tugas kuliah, ternyata serius dalam mengambil peluang di industri kopi lokal Purbalingga. Alih-alih bikin kafe kekinian, Rifki lebih memilih untuk merancang Point Pbg Coffee Roastery berada di lini pengolahan pasca panen, khususnya roasting.

Waktu merintis bisnisnya, Rifki melihat di lini roasting belum ada pemain yang serius di Kabupaten Purbalingga. Maka itu, ia melihat peran sebagai “jembatan” antara hulu dan hilir di industri kopi ini sebagai peluang besar.

Makanya nggak heran kalau Rifki Maulana disebut sebagai salah satu pegiat kopi yang mampu meraup keuntungan besar, hingga puluhan juta rupiah, secara rutin. Sumber rupiahnya tentu lebih besar pada olahan pascapanen, dibanding dari bill di kafe. Doi juga mengakuinya sih. Hehehe.

Point Pbg Coffee Roastery mengolah kopi dari tanah-tanah di wilayah Kecamatan Karangmoncol dan Rembang, untuk kopi robusta. Sementara kopi arabica, Point Pbg Coffee Roastery mengolah Kopi Gunungmalang.

Nggak cuma mengambil kopi petik merah dengan kualitas terbaik. Point Pbg Coffee Roastery juga lumayan menyediakan waktu dan tenaga untuk melakukan edukasi dan pemberdayaan kepada petani kopi.

Sekarang ini, produk olahan kopi bubuk dari Point Pbg Coffee Roastery sudah masuk ke Alfamart, melalui program Tuka-Tuku. Sudah ada empat Alfamart yang memajang produk. Rencananya, penjualan produk Tuka-Tuku bisa dilakukan di semua Alfamart di Kabupaten Purbalingga.

Katanya sih, penjualan kopi dari Point Pbg Coffee Roastery di Alfamart sudah cukup lumayan. Namun, Rifki nggak berpuas hati sepertinya. Heuheuheu.

Kisah Kaldi adalah Inspirasi Kemasan Baru Kopass.

Pada tahun 2020 ini, sejatinya Point Pbg Coffee Roastery hanya fokus mendirikan kafe di Desa Makam. Namun, progres penjualan yang moncer di minimarket modern melalui program Tuka-Tuku, membikin Rifki dan tim bergerak sigap melakukan inovasi.

Inovasi tersebut berupa mendesain ulang kemasan Kopass. Oh iya, Kopass itu brand kopi dari Point Pbg Coffee Roastery yang difokuskan untuk penjualan di minimarket.

Kisah Kaldi kemudian menjadi inspirasi dari inovasi redesign kemasan Kopass. Kaldi adalah penggembala kambing di Ethiopia yang konon menemukan kopi sebagai biji yang bisa dikonsumsi untuk pertama kali.

Keberanian Point Pbg Coffee Roastery untuk melakukan inovasi produk berhasil menjadikan Kopass yang punya tagline “Pastikan Bahagiamu” itu memiliki kemasan yang keren banget. Sangat eye catching. Unyu-unyu!

Saking kerennya,  AkuBangkit nggak nyangka kemasan yang memajang kambing sedang memegang secangkir kopi itu adalah kemasan kopi bubuk. Jujur aja. Karena memang kemasannya lucu banget, kayak snack kekinian. AkuBangkit suka!

Dari kemasan aja, seolah Kopass ingin menegaskan komitmennya menghadirkan kebahagiaan bersama seduhan kopi robusta lokal Purbalingga. Lihat kemasannya aja udah tersenyum.

Dengan kemasan yang sangat berkelas, Kopass ternyata punya harga yang sangat murah. Harganya Cuma Rp 15 ribu perbungkus. Satu bungkusnya bisa untuk ngopi ramai-ramai bersama 10 orang. Pasti bahagia kan kalau gini!

Kalau wankawan pengin seruput kebahagiaan bersama Kopass, bisa tuh beli di minimarket atau beli online di Tuka-Tuku. Hm, tapi bisa juga sih order via AkuBangkit. Tinggal kontak via Tanya AkuBangkit aja. Gampang kan!

Ngopi di Cirebon Yuh: [Ulasan] Perjumpaan Koleksi Buku, Secangkir Kopi & Obrolan Bergizi di Rumah Rengganis Cirebon

Obrolan tentang Point Pbg Coffee Roastery dan bisnis kopi lokal di Purbalingga bareng Rifki Maulana nggak cuma bisa disimak di blog AkuBangkit ini. Namun juga ada kok di Channel Youtube “Bangkit Wismo”.

AkuBangkit dan Rifki sudah bikin video podcast “Spik Sana Spik Sini”. Obrolan yang begitu mengalir dan apa adanya. Ada dua part video.

Langsung aja yah tonton videonya. Biar AkuBangkit tambah semangat bikin konten podcast, jangan lupa untuk subcribe dan komentar yah. Monggoh. Hihihi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *