Jepret

Mengintip Nasib Buruh di Purbalingga

RIBUAN kaum perempuan di Purbalingga terserap di pabrik-pabrik rambut dan bulu mata palsu. Karenanya, tak aneh bila di Purbalingga sangat jarang ditemui perempuan yang mau jadi TKW. Walau begitu, nasib mereka tak kalah memilukan dari TKW. Gaji yang tak sesuai UMK dan tak jelasnya kompensasi lembur, hanya secuil bukti betapa mirisnya hidup mereka.

SEMPITNYA tempat beribadah dan waktu yang singkat untuk beristirahat membuat para pekerja pabrik di Purbalingga yang memanfaatkan tempat seadanya untuk beribadah. Ribuan tenaga kerja namun hanya terdapat satu masjid berukuran sedang.

RUANGAN luas tersebut juga tidak hanya menjadi ruang untuk mengais rejeki dari rajutan rambut-rambut yang kemudian diuntai menjadi sebuah wig. Melainkan juga sebagai pasar jual beli pakaian.

DI ATAS hamparan kardus perempuan-perempuan itu memanfaatkan satu jam jatah istirahatnya. Selepas makan dan “bertemu” dengan Tuhannya, mereka lantas tertidur. Mereka tegolong beruntung, sebab ada perusahaan lain yang hanya menerapkan jam istirahat kurang dari 30 menit.

Foto diambil pas “menengok” lebih dalam melihat kehidupan kaum buruh rambut dan bulu mata palsu di Purbalingga, Rabu 22 Juni 2011.

10 thoughts on “Mengintip Nasib Buruh di Purbalingga”

  1. SP >> lah apanya yang terkuak? foto itu belum menguak apapun koh. lagian bukan soal terkuaknya, tapi mau gimananya itu loh. hehehe

    alfy >> dramatis apanya? biasa bae mbok mbak? makanya, punya hape mahal, jangan cuma buat moto diri sendiri aja dong. hehe

  2. Kalau di sini, bukan jatahku menutup dengan kata-kata tersebut. Jatahku hanya menggaungkannya saja. hehehe…
    Ini menjadi menarik lantaran jarang ada gambar yang mengabadikan hal semacam ini. Biasanya, gambarnya udah disetting. hehehe

  3. Serba salah mas….sy pernah ketemu dg pengusaha asal Cina yg memiliki pabrik garmen di Bekasi. Prinsip dia: kalo pegawai menuntut upah tinggi(diatas 1,5 jt / bln), mk dia akan pindahkan pabriknya ke vietnam atau kamboja atau bahkan ke Cina lagi yg bs menerima upah 100 US $. Sekarang saja di DKI bgt diberlakukan UMP sdh 20ribuan buruh di PHK utk menghindari kebangkrutan perusahaan. Jadi kalo Pemda galak dgn pengusaha Korea2 tsb, mereka bisa dlm sekejap memindahkan pabriknya ke Vietnam atau Kamboja yg upah buruhnya murah. Lantas siapa yg akan menghidupi ratusan ribu buruh yg bekerja didlmnya? Disinilah perlu negosiator ulung : membujuk utk menaikkan smp batas upah tertinggi yg disanggupi dan disepakati, namun tetap berharap/menjamin para Korea tsb tetap menanamkan investasinya di Pbg. Wallahu a'lam…

Tinggalkan Balasan ke Dodi Faedlulloh Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *