sumber foto dari pixabay
Catatan Lepas

Perlukah Mengelola Aktivitas Marketing di Tengah Krisis Pandemi Virus Corona yang Melanda Dunia?

Hanya dalam hitungan bulan, pandemi virus Corona benar-benar sudah mengubah dunia. Manusia, organisasi, hingga negara sedang beradaptasi terhadap paparan Covid 19, yang masih saja menyebar ke berbagai belahan dunia.

Yang tadinya asal-asalan, menjadi rajin cuci tangan, mandi hingga menyimpan hand sanitizer di saku. Yang tadinya risih muka tertutup, menjadi rela hanya mata yang tak tertutup masker. Yang tadinya suka mlipir, nongkrong dan sok akrab, pun memilih ikhlas menjadi hamba kaum rebahan.

Tak hanya di situ saja. Yang tadinya sangat sangat tidak perhatian dengan kesehatan badan, menjadi sangat kepo dengan informasi-informasi kesehatan keluarga. Orang menjadi lebih protektif dan hati-hati. Semua sudah berubah, hanya dalam hitungan bulan.

Dampak pandemi virus corona di Indonesia dan dunia memang luar biasa. AkuBangkit dan juga kanca-kanca juga sudah tentu merasakan dampaknya. Apalagi, jumlah pasien positif corona di Kabupaten Purbalingga mengalami penambahan.

Berdasarkan update sampai dengan 25 Maret 2020 sore kemarin, sudah ada empat orang pasien positif corona. Banyak, men. Kebanyakan dari mereka baru saja melakukan perjalanan ke luar kota. Jumlah ODP dan PDP sudah tentu lebih banyak lagi kan. Untuk info detail bisa cek updatenya di sini.

Pada akhirnya, nggak cuma sendi-sendi kesehatan keluarga dan kehidupan sosial aja yang terdampak. Tetapi juga berdampak pada sektor perekonomian. Mulai dari perekonomian negara, perusahaan hingga urusan kantong personal orang perorang.

Baca Ini Juga Dong: Berbagi Cerita. Ini Tentang Bagaimana Virus Corona Covid-19 Berdampak pada Kehidupanku

Sekarang ini, kantor pemerintahan hingga perusahaan, pabrik dan pengusaha UMKM sudah mengambil kebijakan work from home alias kerja di rumah. Sudah berjalan satu hingga dua pekan. Namun sepertinya akan diperpanjang lagi satu pekan. Kalau situasi belum terkendali, ya sudah pasti diperpanjang lagi.

Di balik upaya penyelamatan diri sendiri serta sesama manusia, terselip kebingungan yang cukup besar dalam diri pemilik usaha. Baik level usaha besar maupun usaha UMKM. Bagaimana cara terbaik bagi institus bisnis alias usaha melewati krisis ini.

Mereka sudah pasti dong pusingnya dobel. Di satu sisi menjaga kondisi keluarga dan
lingkungannya, nah di lain sisinya, mereka khawatir dengan stabilitas bisnis. Nggak
mungkinkan, saat krisis terlewati, malah akhirnya nggak bisa makan.

AkuBangkit nggak ngomong deh kalau soal perusahaan besar. Tetapi bagaimana dengan pelaku usaha level UMKM dan startup. Mereka yang sedang mendaki tangga pertumbuhan bisnis. Padahal, awal tahun 2020 ini, mereka menatap peluang dengan optimisme.

AkuBangkit yang bekerja di Citrantara Marcomm juga merasakan pusing yang sama. Perusahaan ini masih startup dan ber-homebase di Purwokerto, kliennya kebanyakan berada di Jakarta dan kota besar lainnya. Sudah tentu merasakan kekhawatiran yang berlipat-lipat.

Sambil work from home, AkuBangkit mulai cari referensi tentang bagaimana perusahaan-perusahaan besar menghadapi krisis semacam ini. Memang tantangannya belum tentu sama dengan corona, tetapi inti masalahnya kan tetap sama; penurunan pendapatan.

Nah, untuk blog kali ini, AkuBangkit ingin share beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pelaku usaha UMKM dan startup dalam menghadapi krisis akibat pandemi virus corona atau Covid 19 ini. Tulisan ini diambil dari berbagai sumber yah. Semoga bermanfaat.

Photo by Polina Tankilevitch from Pexels

Perlukah Mengelola Aktivitas Marketing Ketika Krisis Pandemi Virus Corona?

Pattanee Jeeriphab, COO dari Vero menyebut kalau setiap bisnis punya pemaknaan sendiri terhadap “krisis”. Sebuah bisnis telah memasuki krisis ketika masalah menjadi cukup besar sehingga bisnis tersebut tidak dapat beroperasi normal atau masalah tersebut menyebar ke publik.

Krisis tidak akan berlangsung selamanya. Cepat atau lambat, krisi akan terlewati. Badai pasti berlalu. Begitu juga dengan krisis karena pandemi virus corona atau Covid 19 ini. Pelaku usaha harus tetap berpikir positif.

Berpikir dan bertindak positif penting bagi keberlangsungan bisnis sebab akan berpengaruh pada langkah-langkah yang akan diambil selama masa drop seperti sekarang ini. Orang yang negatif thinking hanya akan merundungi dirinya sendiri, sembari mengumpat tentang kondisi.

Ingat, yang menghadapi krisis imbas dari virus corona ini tidak hanya bisnis dan usaha kita sendiri. Dan ingat pula, pelaku usaha lainnya bisa jadi sudah mengambil langkah untuk menyelamatkan bisnisnya. Pebisnis hebat akan menemukan kesempatan di antara kesempitan.

Jadi, aktivitas memutar roda usaha dalam rangka penyelamatan bisnis alias usaha tetap harus dilakukan. Demi masa depan keluarga dan orang-orang yang sudah bergantung pada unit usaha ini. Dan, aktivitas marketing adalah salah satu aktivitas yang tidak boleh serta merta menurun apalagi dihilangkan. Kendati penjualan bisa berjalan normal.

Namun, aktivitas marketing di masa krisis karena Covid 19 berbeda dengan aktivitas
marketing ketika kondisi normal. Butuh pendekatan-pendekatan yang tepat, demi terjaganya penjualan namun tak melanggar aturan social distancing apalagi menyakiti hati konsumen.

Mulai dari Gojek, Grab, Indihome, Ruang Guru, Samsung, Narasi Tv, Tokopedia bahkan Shoppee merupakan sedikit contoh merek yang melakukan aktivitas marketing secara cerdas di tengah terus bertambahnya jumlah pasien terpapar virus corona di Indonesia.

Mereka terus mengenalkan dan menguatkan merek tanpa pernah menakut-nakuti atau menyakiti masyarakat yang sedang khawatir dengan penyebaran virus corona. Sehingga, tanpa sadar, konsumen kian kuat terhadap brand idamannya itu.

AkuBangkit merangkum beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh pelaku usaha, khususnya sih di level pelaku UMKM dan startup bussines. Monggoh simak tulisan yang terinspirasi dari Marketeer.com ini.

Pertama. Jangan kasih kendor komunikasi pemasaran dengan pelanggan ataupun mitra kerja.

Di masa krisis seperti ini, komunikasi menjadi hal yang sangat penting. Terlebih, dengan adanya kebijakan bekerja dan belajar dari rumah. Sudah tentu, jarak semakin merenggang serta perilaku konsumen mengalami perubahan.

Baik buruknya proses komunikasi pemasaran alias marketing sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha untuk memahami respon, perilaku dan harapan yang dimiliki konsumen. Dengan begitu, brand akan satu frekuensi dengan kebutuhan konsumen.

Namun dalam kondisi krisis begini, jangan berbicara dengan pesan yang berorientasi pada brand atau bisnis kita sendiri. Namun berkomunikasilah dengan menyesuaikan pesan brand dengan kebutuhan konsumen.

Jadi, brand tidak melulu berorientasi pada peningkatan omzet penjualan. Atau setidaknya stabil ada penjualan. Namun juga brand harus mampu tunjukan empati dan solusi atas kondisi kekinian di tengah pandemi virus corona ini.

Jika hal itu dilakukan, maka brand akan terus dibicarakan serta menjadi bagian dari
kehidupan isolasi diri serta menjadi solusi yang diharapkan oleh konsumen. Konsumen akan kian loyal. Jika ini terjadi, kesempitan akan benar-benar menjadi kesempatan yang menyenangkan.

Kedua. Media sosial selalu bisa menjadi sarana pemasaran yang efektif dan efisien.

Memilih terus memaksimalkan penggunaan media sosial untuk memasarkan bisnis, merupakan langkah yang tepat. Media sosial mempunyai daya jangkau yang luas dan sangat efisien dari aspek pembiayaan.

Apalagi, sekarang ini, masyarakat semakin jarang beraktivitas di luar ruangan. Artinya, mereka akan semakin lekat dengan smartphonenya. Yang pada ujungnya, intensitas mereka mengakses media sosial akan semakin tinggi. Bahkan mungkin sangat tinggi.

Masyarakat berkomunikasi lewat media sosial. Update informasi tentang corona, berbagi informasi, mencari hiburan, hingga mencari materi untuk kerja dan belajar juga secara online. Smartphone dan media sosial sudah tentu sangat lekat.

Brand yang cerdas akan mengupayakan untuk terus hadir di media sosial. Menjadi bagian dari pembicaraan virus corona sembari menawarkan produknya menjadi bagian dari solusi atas masalah yang mungkin muncul di tengah aktivitas social distancing.

Namun, jangan asal-asalan dalam berkomunikasi di media sosial. Apalagi hanya fokus jualan dan jualan. Buatlah konten yang menarik, bermanfaat dan ada unsur kebaruan, sehingga potensi viralnya lebih tinggi.

Ketiga. Ini momentum untuk melakukan digitalisasi bisnis.

Salah satu aspek positif dari merebaknya virus corona adalah munculnya momentum untuk melakukan digitalisasi. Seperti tadi disinggung, Covid 19 sudah berpengaruh besar dalam proses bisnis, baik internal maupun eksternal.

Rapat-rapat mulai menggunakan video call, grup chat ataupun email. Sudah mirip dengan gaya kerja freelancer jarak jauh. Kita semakin kenal dengan aplikasi semacam Trelo, Google Drive, Ruang Guru, Mega, Hadirr hingga Zoom.

Di luar kondisi kerja dan belajar dari rumah, digitalisasi memang hal yang penting bagi bisnis. Digitalisasi bisnis dapat meringkas proses pekerjaan, software bisa membantu mengurangi terjadinya kesalahan pekerjaan dan bisa mengurangi budget operasional bisnis karena paperless.

Contoh paling simple adalah membuat proses pembayaran bisa dilakukan secara online via transfer bank, Link Aja, Dana, Ovo, Gopay dll atau bisa juga dengan membuat invoice alias nota pembayaran secara digital

Baca Yuk: Kerja Sambil Traveling ke Sorong; Kota Bersama di Papua Barat & 3 Pengalaman Unik

Itu dia beberapa hal yang pengin AKuBangkit share di blogpost kali ini. Ya bagaimanapun, usaha kan harus tetap jalan dan bertahan kan, meski penyebaran virus corona di Indonesia masih belum bisa terkendali secara maksimal.

Semoga kita bisa lepas dari krisis yang tak pasti ini. Selama kita terus disiplin isolasi, menjaga kebersihan dan kesehatan keluarga serta lingkungan serta terus berpikir solutif, kayaknya badai ini bisa kita lewati dengan baik.

Oke deh, Ini dulu yang yang AkuBangkit share. Seperti biasa. Kanca-kanca boleh kirim masukan dan ide segarnya di kolom komentar. Monggoh.

Sumber Foto dari Pixabay

2 thoughts on “Perlukah Mengelola Aktivitas Marketing di Tengah Krisis Pandemi Virus Corona yang Melanda Dunia?”

    1. Iya Kang. Digitalisasi bisnis itu memang agak susah di kesadaran dan adaptasinya, tapi kalau diteraptakn sangat mudah dan murah. Mulai dari pencatatan order sampai invoice sudah banyak aplikasi free yang bisa membantu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *