Catatan Kecil

Tiga Hal tentang Purbalingga Sehati

Pemerintah Kabupaten merilus “Purbalingga Sehati”,
sebagian masyarakat kukuh saja untuk jadi “Purbalingga Perwira”


Niat hati Bupati Purbalingga untuk membikin semangat jajaran birokrat dan warga berkibar melalui slogan Purbalingga Sehati bertepuk sebelah tangan. Banyak anggota masyarakat malah tak sehati dengan Perbup No 66 Tahun 2017 itu.

Dalam hitungan menit dari 17 pukulan gong di pukul 17.17, tanggal 17 Juli 2017, tagar #SavePurbalinggaPerwira, #SavePerwira hingga #TolakSehati membanjiri linimasa di berbagai platform media online milik warga Purbalingga.

Untuk melihat detail semaraknya polemik ini di media sosial, sila search Purbalingga Sehati di mesin pencarian. Maka di sana akan terpapar banyak status, video bahkan meme yang menyuarakan pendapat warga Purbalingga.

Oke. Sebelum kita berbicara soal Purbalingga Sehati. Pertama, perlu diketahui bahwa gegeran slogan di Kabupaten Purbalingga ini bukan kali pertama. Purbalingga sudah berganti-ganti slogan sejak 1985. Zaman Orba dulu, slogan kota memang digalakkan.

Sekitar periode 1985 – 1990, dibawah kepemimpinan Bupati Soekirman ketika itu, Purbalingga punya slogan Tiban. Kata itu ialah akronim dari kata Tertib, Indah, Bersih, Aman dan Nyaman. Yah, jadinya dulu itu “Purbalingga Tiban”.

Nah, pas zaman Bupati Soelarno, sekitar 1990 – 2000, Purbalingga punya nama yang lebih wow lagi. Purbalingga Tiban Abadi. Tertib, Indah, Bersih, Aman Nyaman dan Asli Budaya Sendiri. Wow banget kan.

Meskipun sudah wow begitu, ternyata masyarakat banyak yang tidak setuju dengan tagline kota ini. Akhirnya, setelah Soelarno lengser, Tiban Abadi juga tak lagi abadi. Ganti bupati, ganti slogan.

Akhirnya, bersamaan dengan asyiknya generasi 90’an main di pelataran rumah tetangga, Kabupaten Purbalingga memilih kata Perwira sebagai slogannya. Purbalingga Perwira. Pengabdian, Ramah, Wibawa, Iman, Rapi dan Aman.

Frasa yang satu ini dinilai ‘pas mantap’ untuk menunjukan siapa itu Purbalingga. Kota yang gagah berani. Kota yang heroik. Apalagi, Purbalingga itu kota lahir Jenderal Soedirman. Klop banget.

Kedua, Pemerintah Kabupaten Purbalingga tidak sendiri untuk urusan penolakan dari warganya sendiri. Contoh yang jauh ada Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebelum ada slogan “Jogja Istimewa”, pemerintah dan warganya tarik-tarikan demi sebuah identitas.

Kalau mau contoh yang dekat, ada! Tengok saja konsep tagline Better Banyumas di kabupaten tetangga. Digaungkan oleh pemerintah kabupaten dan timnya, tagline itu malah methal begitu saja di hadapan warganya. Dan ketika dipaksakan, nggak dianggap.

***


Baik, mari kita berbicara hati ke hati tentang Purbalingga Sehati. Tentu saja, jangan nafikan sikap perwira kita.

Mawar Merah Bertepuk Satu Tangan

Adalah maklum saat banyak orang yang kaget lantas berang dengan berubahnya slogan “Perwira” ke “Sehati”. Terlebih karena aksi mendadak di tanggal cantik.

Selama ini, mereka itu sudah menjadikan kata perwira sebagai bagian dari kebanggaan, identitas, sarana berinteraksi, bahkan merek dagang yang lekat dengan kehidupannya. Seperti mendoan di tanah perantauan. Seperti kretek di antara perokok.

Kalau sudah begini, sepertinya akan berat bagi Bupati dan Wakil Bupati Purbalingga untuk mendambakan balasan cinta dari rakyat. Jangankan untuk handarbeni, menyuka pun enggan. Ini semacam adegan suprise ‘nembak’ dengan mawar merah tapi ditolak karena Si Doi sudah punya tambatan hati.

Langkah yang Melankolis

Memilih slogan “Sehati” terasa seperti langkah mundur yang melankolis. Terutama, karena sedari awal memimpin, duet “Pasangan 11 April” ini memang seperti sedang ngalap berkah kharisma Jenderal Soedirman.

Loh, lihat saja itu beberapa program kerja pemerintah yang bersinggungan dengan jenderal bertandu ini. Mulai dari revitalisasi Laskar Jenderal Soedirman, Blangkon Soedirman sampai yang paling mentereng; Bandara Jenderal Besar Soedirman.

Di mata kebanyakan Wong Braling, lakon paling perwira di tlatah purba ini adalah Soedirman. Sudah ikonik. Rasanya, juga susah untuk uthak athik gathuk antara Sehati dan Soedirman, kecuali dengan apotik.

Revolusi Hati nan Menyatu

Mungkin ada baiknya tagline kota yang selama ini ada tak perlu diubah. Terlebih tak ada angin, tak ada hujan. Tidak urgent. Kalaupun Bupati dan Wakil Bupati ingin ada gereget kinerja, lebih baik fokus untuk menyasar internal birokrasi.

Bikinlah saja slogan khusus pemerintahan. Seperti Joko Widodo dan Yusuf Kalla yang menggerakan hati jajarannya seantero Nusantara ini dengan Revolusi Mental.

Untuk level kabupaten di selatan Jawa Tengah ini, ya cukuplah kalau bikin kampanye sepenuh hati dalam tajuk “Revolusi Hati Menyatu”. Program turunannya bisa jadi Layanan Sehati. Mantap kan.

Penjelasannya seperti sudah dipaparkan panjang lebar oleh Bupati Purbalingga. Toh, dari sekian banyak kutipan yang dirilis bagian humas lebih banyak bercerita soal kepentingan para birokrat.

Purbalingga Perwira. Pemerintah Sehati, Sepemikiran.

***


Polemik ini sebaiknya segera diselesaikan. Jangan berlarut-larut. Apalagi sampai ngliyus begitu saja. Masyarakat kan juga butuh penjelasan. Seperti halnya pemerintah butuh menjelaskan. Toh, Wong Braling itukan tipe orang-orang yang gampang diajak rembug.

Jangan sampai ada sertifikat rekor di MURI berbunyi “Pemerintahan Sing Diomehi Wong Paling Akeh”. Pertama, karena biaya bikin rekor itu mahal. Kedua, itu rekor yang nggak lucu, wagu malahan.

Atau jangan-jangan ini adalah agenda pemanasan sebelum ada kekagetan-kekagetan lain di Purbalingga yah. Misalnya adanya desas-desus pemerintah hendak mengubah nama Segamas menjadi Segandog. Maregi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *