Aku ingin cerita tentang sore ini. Entah kamu akan membacanya, entah kamu akan melewatkan cerita-ceritaku, seperti biasa. Aku hanya ingin berbagi saja di blog ini, sembari membuang bosan dengan hasutan alogaritma medoa sosial.
Sekarang, Aku sedang duduk di sebuah warung kopi yang punya nama Warkop Bossku. Aku memilih mendengarkan music lewat Soundcore R50i NC, walaupun speaker di warkop kecil ini juga mendendangkan lagu-lagu.
Kopi susu yang sudah tinggal separuh. Mungkin tinggal beberapa kali sruputan, ampas kopi akan menyapa mata yang memandang. Tapi kalau boleh jujur, susu kopi sore ini terasa biasa saja.
Pria yang Memandang Jalan dengan Tatapan Kosong.
Sembari mengikis kebosanan yang sudah semakin akrab, Aku melihat seorang pria memandang jalanan dengan tatapan kosong. Topi putih menjadi peneduh kepala pria paruh baya ini.
Ia melihat jalanan yang sudah basah kuyup oleh hujan deras tadi, tapi terlihat sekali matanya menerawang perihal yang lebih jauh lagi. Matanya telah menjadi cermin betapa pikirannya sedang meggurai ihwal rumit yang tak pantas dunia tau.
Sesekali mengisi pandangannya, dengan napas yang panjang dan seduhan secangkir kopi hitam, yang entah sekuat apa pahitnya. Matanya Kembali menerabas tirai bambu yang bergoyang karena angin.
Coldplay mengiringi paruh baya itu ketika sedang membenahi topinya, dengan lagu lagu Yellow yang mendayu. Hujan deras memang hanya menyisakan gerimis, namun sepertinya kegelisahannya masih belum juga reda.

Sementara Puluhan Kopi yang Lain Masih Menunaikan Tugasnya.
Gila, tak masuk logika. Termangu hatiku. Kau menggenggam, ku mengadahnya. Begitu kata Fourtwnty bicara, ketika keyboard di Laptop Lenovo andalan ini berusaha merangkai kata-kata untuk menghasilkan paragraph ini.
Sepertinya banyak hati di warkop ini yang termangu oleh keadaan mewarnai lembar-lembar kehidupan pribadi mereka. Kamu bisa melihatnya dari kopi-kopi yang bertebaran di meja kayu.
Kopi-kopi itu sudah dingin dari tadi. Kopi susu-ku saja sudah lebih dari dua jam, apalagi kopi yang telah menemani orang-orang yang memilih duduk, berbincang, bengong di warung kopi.
Walau sudah dingin dan kurang nendang, tugas kopi-kopi itu masih belum tuntas. Sebab tuannya belum beranjak. Padahal mereka sudah melewati fase berbincang serius hingga asik diam dengan smartphonenya masing-masing.
Mungkin Belum Waktu yang Tepat untuk Pulang.
Hujan sudah mereda. Urusan-urusan juga sudah mereda. Tapi keputusan untuk pulang masih bukan jadi bagian dari hal yang harus diambil. Mereka masih bergumul dengan pemikiran “berdansa sore hari ku….”
Kusruput kopi yang sudah dingin. Sembari melihat orang-orang yang berlalu-lalang menerabas gerimis yang khusyuk menari bersama Fana Merah Jambu. Aku juga enggan beranjak pulang.
Aku sedikit memahami bahwa pulang bukan lagi tentang merebahkan badan, memberi istirahat pada pikiran atau pergi dari suasana yang tak diharapkan. Pulang sejatinya tentang bertemu dengan siapa yang menunggu kita.
Jadi, buat apa buru-buru pulang jika tak ada yang menunggu. Ku kira ini hanya candaan untuk melarang beranjak pulang. Tapi memang benar adanya, pulang adalah tentang bertemu.
Ada Laba-laba yang Sedang Berjalan-jalan.
Laba-laba itu di Tembok. Dalam sudut pandangku, ia jalan ke atas, lalu kebawah. Tapi, mungkin dalam dalam perspektifnya, ia sedang melangkah maju. Entahlah, aku memang suka dengan spiderman, tapi aku nggak pernah tau tentang laba-laba.
Sebenarnya Aku sudah berniat pulang. Karena niat bikin 1 post dan 1 blog baru, kandas. Daripada hanya bengong, di kamar kos sepertinya cukup bukan? Tapi hujan kembali datang berduyun-duyun.
Kamu mau tanya, Aku mau menulis apa? Tadi nemu beberapa ide hasil searching, tapi nggak cukup bagus. Karena ide-ide menulis blog ini lebih seperti kebawa alur alogaritma, sementara Aku tahu, Aku nggak cukup kompeten ngomongin itu.
Alternatifnya? Ada! Karena di handphone ada note mengenai tema-tema cadangan yang bisa dibikin kalau tetiba ingin menulis blog. Tapi, yaa… masih nggak cukup menarik untuk dibuat sekarang.

Kalau kata Lagu Iris Sih Begini….
Makanya Aku menulis sepanjang ini, dengan pikiran dan pandangan mata yang random melihat sekitar. Mengacuhkan segala tema yang sudah menjadi daftar, demi mencoba kembali bercerita apa adanya, sembari mengukur kualitas story.
Kalau kata The Goo Goo Dolls di lagu Iris; And I don't want the world to see me/ 'Cause I don't think that they'd understand/ When everything's made to be broken/ I just want you to know who I am….
Hujan kembali deras. Sangat tak masuk akal, jika menerabas hujan tanpa mantel. Lalu, tulisan ini sudah menjumpai kata-kata penutupnya. Dan, sekarang aku malah gelisah; pesan kopi lagi atau bengong sendiri?
