Catatan Kecil

Artikel : Lumbung Inspirasi

Identitas paling mudah dari anak muda adalah asyik.
Photo by pexel.com
Karangtaruna di Kabupaten Purbalingga telah memasuki babak baru. Jika tahun-tahun sebelumnya, berbagai kisah karangtaruna, baik di level kabupaten, kecamatan maupun desa cuma mirip coretan di dinding, maka mulai akhir tahun 2017 ini hasrat untuk menggeliat bisa lebih menyala.
Alasan utamanya, karena Pemerintah Kabupaten Kota Perwira sudah bulat hati mengucurkan duit sampai Rp 300 juta untuk organsasi sosial kepemudaan di tahun 2017. Jumlah ini tentu saja wow, mengingat pada pada tahun 2016 lalu, karangtaruna kabupaten β€œhanya” digelontor Rp 68 juta.
Ini belum pula dihitung dengan sokongan pemerintah desa terhadap karangtaruna di masing-masing desa. Nilai ploting dana bisa jadi berbeda tiap desa, namun setidaknya urusan duit tak membikin kepala pening pengurus karangtaruna.
Akan tetapi, bicara soal karangtaruna bergerak bukan semata soal duit, meskipun memang tak ada logika tanpa logistik. Ada hal ihlwal lain yang juga perlu mendapatkan perhatian. Bahkan bisa jadi, perihal itu bisa jadi tak bisa dibereskan dengan bermodalkan uang.
Kepercayaan
Salah satu problematika karangtaruna kekinian ialah tentang cara orang menaruh kepercayaan terhadap aksi para kaum muda. Kepercayaan ini bukan mengenai kesempatan jadi panitia tujuh belasan atau alokasi dana untuk kegiatan karangtaruna.
Kepercayaan ini berbicara tentang memberikan ruang bagi kaum muda untuk mengaktualisasikan konsep dan gagasan mereka di karangtaruna. Organisasi ini harus diberi kesempatan untuk tumbuh menjadi organisasi yang fresh. Bukan badan muda, otak lawas.
Bagaimana dengan peran generasi tua? Tentu tidak langsung disingkirkan atau antipati. Generasi sepuh yang banyak mencicipi asin garam ini memainkan peran sebagai pendamping, penyemangat hingga pemberi rambu-rambu. Iya, memainkan peran tut wuri handayani. Peran ini penting.
Sebab, pada dasarnya, yang mengerti anak muda adalah anak muda itu sendiri. Mereka lebih paham atas masalah sosial yang mereka hadapi dan solusinya, tentu. Memberikan ruang lega untuk mereka peka sekaligus berusaha mengurai masalahnya juga fase penting dalam mendidik generasi muda.
Yang Asyik
Ketika kepercayaan sudah dalam genggaman, tak boleh ada adegan bertepuk sebelah tangan yang pedih itu. Perlu ada aksi dan reaksi yang tepat. Kaum muda harus mampu mengorganisir pemikiran dan aksinya di karangtaruna untuk menjawab kepercayaan masyarakat tersebut.
Anak-anak muda ini harus mampu mengandalkan dirinya sendiri untuk mewujudkan karangtaruna sebagai ruang apresiasi dan aktualisasi diri yang seru, yang dinamis. Komitmen ini sangat penting sebagai pondasi untuk merawat semangat kaum muda berperan positif bagi desanya.
Jangan sampai karangtaruna yang ranahnya anak muda malah dijauhi oleh anak muda itu sendiri. Baik karena dianggap sudah jadul, dianggap sebagai kegiatan yang mbebani bahkan dianggap sebagai organisasi yang ora inyong banget.
Jika itu terjadi, yang perlu instrospeksi ialah pengurus karangtaruna, bukan orang muda kebanyakan itu. Terutama lantaran pengurus karangtaruna itu tak bisa menggunakan segala pengalaman dan kreatifitasnya untuk membuat program yang mampu peka zaman.
Kreatif & Peka
Ingat, ranahnya karangtaruna bukan lagi cuma tentang kegiatan sosial. Namun juga ada kenakalan remaja, sikap individualistis masyarakat, jerat narkoba sampai dengan spirit kewirausahaan. Semua itu, butuh treatment yang tak sebatas rutinitas.
Untuk itulah, karangtaruna sudah semestinya menjadi lumbung inspirasi bagi lingkungannya. Sebuah tempat yang mampu menjadi solusi atas paceklik sosial di lingkungannya, serupa dengan fungsi lumbung padi. Kreatifitas, kepekaan dan jiwa muda adalah modalnya.
Betul, menyalakan semangat karangtaruna bergerak tak semudah berniat. Namun, tanpa mental progresif untuk menjawab kepercayaan masyarakat, maka angin segar yang dihembus sejak ujung tahun 2016, hanya akan menjadi angin lalu. Lagian, masa anak muda nggak asyik?
* Tulisan saya sebagai salah satu pengurus Karangtaruna Wirabumi Desa Majapura, Kecamatan Bobotsari ini telah terbit di Satelit Post edisi 9 Maret 2017 dengan judul “Karangtaruna Ora Inyong Banget?

** Link di Satelitpost : http://satelitnews.co/berita-karangtaruna-ora-inyong-banget.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *